BLUSUKAN

Blusukan Kampung Eropa Jilid 4

Love Suroboyo – Komunitas Love Suroboyo pada hari Minggu (19/8) lalu, kembali mengadakan blusukan akbar bersama follower. Acara ini diikuti oleh total 120 peserta beserta panitia. Rute blusukan kali ini dimulai dari Musium Bank Indonesia (Eks. de Javasche Bank)-Taman Sejarah-Pabrik Telasih Siropen-Musium Hidup Polrestabes Surabaya-Gedung PTPN XI.

Kampung Eropa

Ketika warga pribumi  memasuki masa bersiap pasca kemerdekaan, orang-orang Eropa sudah menghilang. Kala itu semua orang bersiap akan kedatangan Bangsa Belanda yang akan kembali menjajah Indonesia. Pada masa bersiap tersebut, para pejuang mengambil secara sepihak rumah-rumah orang Belanda. Orang-orang Belanda sebenarnya ingin mengklaim kembali rumah-rumah mereka. Tetapi sulit karena waktu itu Belanda sudah kalah.

Gedung peninggalan Belanda di kawasan Kampung eropa Surabaya

Warga Belanda itu hanya memiliki dua opsi. Yakni, tetap tinggal di Indonesia dan menjadi WNI, atau pulang ke Belanda. Dan kenyataanya, banyak warga Belanda yang lebih memilih untuk mudik ke Belanda. Sehingga, yang tersisa dari Kampung Eropa itu pun hanya fisik bangunannya, tetapi penghuninya tidak ada.

Beberapa jalan utama Kawasan Eropa yang ada di Surabaya yakni :

  1. Heerenstraat (Jalan Rajawali)
  2. Willemstraat (Jalan Jembatan Merah)
  3. Roomkatholikstraat (Jalan Kepanjen)
  4. Boomstraat (Jalan Branjangan)
  5. Schoolstraat (Jalan Garuda)
  6. Werfstraat (Jalan Penjara)
  7. Societeitstraat (Jalan Veteran)

Sehingga, mari kita menjelajah bangunan tua, dengan arsitektur dan ornamen klasik ala kolonial Belanda di Kampung Eropa. Perjalanan ini dimulai dari :

Musium Bank Indonesia (Eks. de Javasche Bank)

De Javasche Bank merupakan bank pertama kali di Batavia bersiri pada 24 September 1828 pada masa pemerintahan Hindia Belanda atas perintah raja Willem I. Lalu membuka cabang di Surabaya pada 14 September 1829, dan kota-kota lainnya. Pada tanggal 1 Juli 1953 bank ini berubah nama menjadi Bank Indonesia, dan resmi dibuka untuk umum setelah adanya rekonstruksi bangunan pada tahun 2012. Gedung ini terdiri dari 3 lantai yaitu, lantai 1 (Ruang Bawah Tanah, sekarang museum), lantai 2 (Ruang kantor, sekarang ruang pameran) dan lantai 3 (Ruang Arsip).

Lantai 2 Musium De Javasche Bank

Kantor pusat berada di Batavia, De Javasche Bank membuka cabang di berbagai kota seperti di Surabaya, Jogjakarta, Solo, Cirebon, Makasar, Palembang dan Pontianak. Kantor cabang De Javasche Bank Surabaya di buka tanggal 14 September 1829 dengan kepala cabang pertama adalah F.H Preyer dibantu asisten A.H Buchler dan J.D.H. Loth sebagai komisaris.

Gedung ini terletak di pojok Schoolstraat (sekarang jalan Garuda no. 01 Surabaya) dan Werfstraat (sekarang jalan Penjara). Kantor cabang De Javasche Bank Surabaya merupakan kantor yang pertama kali menerapkan sistem perhitungan kliring antar enam bank utama, yaitu Nederlandsche Handle Mij Factorij, De Hongkong Bank&Shanghai Banking Corp, de Chartered Bank of India Australia&China, De Nederlandsche Indische Handelsbank, dan De Javasche Bank.

Gedung De Javasche Bank

Kantor ini juga tercatat sebagai kantor pertama yang menyelenggarakan proses kliring di gedung kantornya sendiri dan bertindak sebagai penyelenggara. Pada tahun 1907 direksi De Javasche Bank memutuskan untuk memperbaharui gedung lama dengan baru yang lebih modern di seluruh Nusantara, termasuk kantor cabang di Surabaya. Maka pada tahun 1910 di bangun gedung baru seperti yang ada sekarang dengan arsitek N.V. Architecten-Ingenieursbureau Huswit en Fermont te Amsterdam. Bangunan tersebut termasuk gedung yang paling bergengsi di Surabaya pada zamannya.

Salah satu ruang musium De Javasche Bank

Pada tanggal 1 Juli 1953, Bank ini berubah menjadi Bank Indonesia dan gedung di jalan Garuda no. 01 masih dipakai sampai tahun 1973. Setelah itu Bank Indonesia Surabaya pindah ke Jalan Pahlawan no. 105 Surabaya karena gedung uang lama sudah tidak dapat menampung kegiatan yang ada. Pada tanggal 26 September 2010 pencanangan Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Bersejarah (Heritage) Bank Indonesia. Bangunan yang kokoh dan indah ini merupakan aset yang berharga bagi sejarah perbankan di Indonesia.

CCTV jaman Belanda yang ada di DJB

Selain sejarah tersebut, terdapat beberapa keunikan dalam gedung eks. De Javasche bank. Keunikan Gedung eks De Javasche Bank diantaranya CCTV yang menggunakan cermin, AC alami dari air bawah tanah, pintu putar sebagai keamanan, kaca patri yang menggunakan pantulan untuk menerangi ruangan dan tempat transaksi antara nasabah dan teler/petugas kasir yang terbuat dari kayu jati dan masih kokoh sampai sekarang.

Taman Sejarah

Perjalanan selanjutnya melewati Taman Sejarah. Taman ini letaknya di Depan Jembatan Merah Plaza dan berada di samping Jembatan Merah yang terkenal yaitu saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan. Dulu taman ini bernama taman Jayengreno. Pada tahun 2017 dirubah namanya menjadi taman sejarah.

Taman sejarah

Taman ini berada tepat disisi kiri Gedung Internatio. Mengapa disebut taman sejarah? Menurut buku City Park of Surabaya, taman diatas lahan seluas 5.300 meter persegi ini memiliki beberapa elemen yang mengandung filosofi tersendiri. Salah satunya Spot Mallaby.Disebut Spot Mallaby karena di lokasi itulah jenderal besar asal Inggris, Brigjen AWS Mallaby tewas pada 30 Oktober hingga menyulut pertempuran 10 November di Surabaya. Di titik tersebut terdapat rancangan pola lantai tak beraturan yang menggambarkan ledakan hebat yang menewasakan Brigjend Mallaby. Replika mobil milik Mallaby diatas spot tersebut menambah nilai sejarahnya.

Gedung Singa

Gedung Singa merupakan karya arsitek yang masih original. Disebut Gedung singa karena didepan megahnya Gedung ini terdapat patung sepasang singa bersayap.

Gedung yang dibangun Berlage sebagai arsitek ini bagian dalamnya masih asli. Terletak di jalan Jembatan Merah. Dibagian atas gedung ada lukisan karya Jan Toorop. Gedung berusia 117 tahun ini merupakan gedung cagar budaya yang tidak ada plangnya (penandanya).

Gedung singa

Gedung ini dibangun pada 1901 pada jaman kolonial dan dipakai sebagai kantor Algemeene Maatschappij van Leensverzeking en Lijfrente (Perusahaan Umum Pertanggungan Jiwa dan Anuitas Jiwa), yaitu perusahaan asuransi terbesar yang didirikan tahun 1990 namun kemudian bangkrut pada 1921. Sesuai dengan nama Gedung ini, di bagian depan Gedung terdapat patung Singa.

Patung singa di depan gedung singa
Pabrik Telasih Siropen

Pabrik ini merupakan pabrik Sirup pertama di Indonesia berlokasi di Jl. Mliwis No. 5 Surabaya, didirikan oleh DC Van Drongelen  pada tahun 1923. Memasaknya masih menggunakan guci besar sebagai kuali. Untuk pengemasannya menggunakan botol kaca dan sampai saat ini masih banyak beredar hasil produksi di beberapa swalayan Surabaya.

Foto bersama di depan pabrik siropen

Bangunan pabrik ini sempat beberapa kali pindah tangan. Tahun 1942 diambil alih oleh Jepang. Lalu setelah masa pendudukan Jepang selesai, dikuasai oleh Belanda. Pada 1958 semua perusahaan Belanda diambil alih oleh Indonesia. Sampai akhirnya tanggal 17 Maret 2015 akhirnya gedung pabrik ini menjadi bangunan cagar budaya. Jika berniat mencari oleh-oleh khas Surabaya, tak ada salahnya mengenalkan sirup Siropen ini kepada khalayak umum. Pabrik ini berada di Jalan Meliwis 5 Surabaya.

Plakat cagar budaya di jalan meliwis no. 7

Selain bangunan pabrik, di kawasan ini juga terdapat bangunan cagar budaya dengan plakat bertuliskan “Rumah Tinggal Jl. Meliwis 7. Arsitektur bangunan kolonial yang mempunyai keunikan bentuk kolom – kolom depan bergaya Indische Empire. Sebagai penanda kawasan kota lama.”

Rumah cagar budaya jalan Meliwis no. 7
Musium Hidup Polrestabes

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Museum Hidup Polri. Tempat ini merupakan bagunan Cagar Budaya pada zaman penjajahan yang sekarang kawasan ini juga difungsikan sebagai Polrestabes Surabaya dengan adanya beberapa Gedung Baru. Hanya bangunan di bagian depan yang merupakan bangunan lama, dan bangunan inilah yang difungsikan sebagai Museum.

Bagian halaman depan Musium Hidup Polrestabes Surabaya

Museum ini menempati gedung cagar budaya peninggalan kolonial Belanda di jalan Sikatan 1 Surabaya. Dibangun pada tahun 1850 dulunya gedung ini bernama Hoofdbureau van Politie yang mana dikenal oleh masyarakat dengan Hobiro. Pada jaman Jepang dipakai sebagai markas pasukan Polisi Istimewa Kota Besar Surabaya. Ketika memasuki pintu depan kami disambut dengan sebuah lonceng berukuran besar. Lonceng tua peninggalan jaman Belanda itu fungsinya untuk mengumpulkan para anggota saat apel pagi. Lonceng ini dibuat pada tahun 1843.

Disebelah lonceng terdapat sepeda patroli polisi tahun 1920-1925. Tugas polisi patroli ini adalah sebagai penjaga ketertiban di perkotaan. Beberapa koleksi museum Polri diantaranya senjata COLD REVOLVER. Senjata buatan Amerika Serikat (USA) tahun 1855 ini digunakan oleh tentara Jepang dan berhasil dilucuti setelah Jepang menyerah kalah terhadap sekutu, dan digunakan oleh anggota Polri di Indonesia hingga saat ini. Senjata ini masih banyak digunakan oleh kepolisian baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Colt merupakan salah satu produksi senjata yang cukup lama.

Ada pula koleksi pesawat radio, alat penyadap suara tahun 1980an, alat pengering foto tahun 1980an yang dapat dengan mudah mendapatkan data foto tersangka, radio telefunken, mesin ketik kecil dan masih banyak lagi. Disisi kanan museum terdapat replika ruangan rapat M. Yasin dan dikenal sebagai Bapak Brimob Polri. Karena beliau sebagai pucuk pimpinan satuan tersebut. Baru-baru ini Jalan Polisi Istimewa Surabaya diganti menjadi nama Jalan M. Yasin untuk mengenang sosok beliau.

Dilengkap beberapa pigura yang dipasang di tembok perjalanan seorang M. Yasin. Diantaranya riwayat penugasan dan jabatan, ketika M. Yasin membentuk Brigade Mobil tahun 1946, operasi militer yang pernah dilaksanakan, M. Yasin pada pertempuran 10 November 1945, dan tak kalah menarik adalah kisah M. Yasin bebaskan budak seks di sarang tentara, sampai kisah beliau meninggal dunia.

Gedung PTPN XI

Destinasi berikutnya yaitu Gedung PTPN XI. Menjadi Gedung paling megah dan ditunggu tunggu peserta blusukan. Tempatnya yang epic, asri, dan kuno ini merupakan tempat paling cocok untuk berfoto ria. Ditambah lagi bagian dalam Gedung ini juga sangat bagus, Desain khas bangunan lama dan tempatnya yang terawat, bersih, dan nyaman untuk dikunjungi.

Gedung PTPN XI

Gedung PTPN XI semula adalah kantor Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) atau Asosiasi Pedagang Amsterdam. HVA berdiri di Amsterdam pada tahun 1879 dan berdagang gula, kopi da.n singkong. Pembanguan Gedung HVA di Surabaya dimulai pada tahun 1911 dan selesai dikerjakan tahun 1921. Gedung ini dibangun oleh trio arsitek Belanda bernama Bureau Hulswit, Fermont, dan Edcuypers. Peresmiannya sendiri baru pada 18 April 1925. Sebelumnya ditempat itu berdiri Gedung Pertunjukan Surabaya yang ketiga. Dengan total 167 pabrik gula di Jawa yang dikendalikan HVA, menghasilkan delapan juta ton gula per tahun.

Peserta pun diajak oleh guide dari PTPN XI untuk berjalan-jalan ke bunker alias ruang bawah tanah PTPN XI. Meskipun kondisi di bunker sangat pengap, namun sudah di renovasi menjadi lebih rapi. Peserta juga harus menunduk untuk melewati antara lorong satu dan lainnya. Di dalamnya terdapat peta Indonesia pada masa Belanda.

Lalu naik ke lantai berikutnya tepat didepan ruangan Direktur Utama. Terdapat kursi dan meja jati asli sejak masa Belanda. Diatas tembok terdapat relief menamam tebu, panen kopi, panen tebu sebagai gambaran dari aktivitas perkebunan masa Belanda. Yang paling unik dari gedung ini adalah tatanan jendela yang menyerupai lawang sewu. Eksotik dan klasik.

Begitulah kira – kira cerita blusukan kampung Eropa Jilid 4 bersama follower komunitas Love Suroboyo. Nantikan kisah – kisah seru lainnya blusukan sejarah bersama komunitas Love Suroboyo. (Anggraeni Septi dan Kurnia Agung Pamungkas)

Sumber cerita http://www.anggraenisepti.com dan https://www.kagung13.com

Sumber foto : @lovesuroboyo, @mazfajarmujianto, @cak_dimdim,@rachmad_juliantono, @edoniarjerypratama, @kagung13, @akuanggraenisepti

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.