BLUSUKAN

Blusukan ke Museum Dr. Soetomo & Kampung Lawas Maspati 

Love Suroboyo – Komunitas Love Suroboyo bersama follower mengadakan blusukan dengan rute Museum Dr. Soetomo, Kampung Lawas Maspati, Bubutan gang IV, berakhir di GBIP Imanuel hari Minggu (27/1).

Blusukan dimulai pukul 09.00 pagi dari Museum Dr. Soetomo. Museum ini terletak di dalam Gedung Nasional Indonesia (disingkat GNI). Didirikan dengan tujuan untuk mengenang perjuangan Dr. Soetomo demi tercapainya cita-cita kemerdekaan Indonesia yang diwujudkan melalui pembentukan perkumpulan Boedi Oetomo. Di lantai satu terdapat cerita perjuangan semasa hidup Dr. Soetomo. Dulunya ia bernama Soebroto, disekolahkan di School tot Opleding van Indische Artsen (STOVIA) yakni sebuah sekolah pendidikan dokter Hindia, terdaftar sebagai keponakan oleh pamannya. Sayangnya, ia ditolak oleh sekolah tersebut. Akhirnya, ia bisa diterima karena mengubah namanya dari Soebroto menjadi Soetomo  dan didaftarkan sebagai anak oleh pamannya. Memakai nama Soetomo dan nama panggilan Tom, terdengar seperti nama dari bangsa Belanda.

Museum Dr. Soetomo

Di lantai satu ini juga diceritakan pembentukan Boedi Oetomo, pembangunan Gedung Nasional Indonesia, hingga kehidupan pribadi termasuk pernikahannya dengan Everdina J. Broering yang masih keturunan Belanda. Selain itu, di sini juga terdapat peta pulau Jawa pada meja segilima di tengah ruangan. Peta inilah yang digunakan oleh beliau untuk menjelajahi pulau Jawa.

Di lantai dua museum terdapat koleksi Dr. Soetomo semasa menjadi dokter, serta replika ruang praktiknya semasa bertugas di Rumah Sakit CBZ (Central Burgelijke Ziekenini Ichting) yang sekarang menjadi Delta Plaza. Dr. Soetomo ini adalah seorang dokter spesialis kulit & kelamin.

Setelah menelusuri bagian dalam museum, tujuan selanjutnya adalah pendopo. Sebelum diresmikan sebagai museum, pendopo ini sering disewakan untuk dijadikan tempat acara resepsi pernikahan atau acara resmi lainnya. Di pendopo ini lebih banyak berisi tentang sejarah perjuangan pergerakan Dr. Soetomo mulai dari pendirian Boedi Oetomo yang melahirkan Hari Kebangkitan Nasional, disusul oleh Perhimpunan Indonesia, hingga pembentukan organisasi Indonesische Studie Club di Surabaya sepulang beliau dari studi di Belanda pada tanggal 11 Juli 1924.

Di tempat ini juga pernah diselenggarakan Kongres Indonesia Raya Pertama yang berlangsung tanggal 1-3 Januari 1932 dan dihadiri oleh 3000 orang, termasuk Ir. Soekarno. Terdapat pula sebuah mesin cetak kuno yang digunakan untuk mencetak halaman-halaman majalah Panjebar Semangat. Majalah Panjebar Semangat ini adalah majalah berbahasa Jawa yang digunakan sebagai media yang paling efektif untuk menyebarluaskan kampanye perjuangan mereka untuk meraih kemerdekaan. Berikutnya berlanjut ke Makam. Dr. Soetomo berpesan kepada adiknya sebelum wafat, ia ingin dimakamkan di dalam Gedung Nasional Indonesia ini.

Setelah museum Dr. Soetomo, perjalanan dilanjutkan menuju kantor majalah Panjebar Semangat. Sayangnya kantor majalah tersebjt tutup karena hari libur. Di sebelah kantor majalah Panjebar Semangat ini terdapat SMK Bubutan. Bangunannya merupakan bangunan lama peninggalan Belanda.

Gedung Panjebar Semangat

Blusukan dilanjutkan menuju Kampung Lawas Maspati, melewati gedung restoran Hallo Surabaya yang terbengkalai dan tidak terawat. Sebelum menjadi restoran Hallo Surabaya, gedung tersebut merupakan Rumah Sakit Mardi Santosa. Sebelumnya juga gedung ini adalah tempat penampungan dan panti asuhan khusus untuk putri yang pemiliknya masih jadi satu dengan gereja GPIB.

Sampai di Kampung Maspati V, terdapat sebuah rumah tua dengan tulisan tahun 1907. Terdapat pula rumah dengan julukan Sekolah Ongko Loro (angka dua) yang memang dulunya adalah sebuah sekolah untuk para pribumi. Sedangkan jaman dahulu itu juga terdapat Sekolah Ongko Siji (angka satu) yang sekarang adalah sekolah SMPN3 di Jalan Praban. Sekolah ongko siji ini adalah sekolah bagi para ningrat.

Dari Maspati V, dilanjutkan menuju Maspati VI. Di kampung Maspati VI terdapat banyak UMKM dan rumah-rumah lawas yang masih berdiri kokoh juga terawat. Warga di kampung ini sangat ramah. Bahkan, di perjalanan ada sekumpulan anak yang  memberi sedikit lelucon. Mereka memanggil Raffi dengan panggilan “Mas”. Saat Raffi menoleh, mereka serentak menjawab “Mas, mas, mas, masuk Pak Eko” sambil tertawa puas.

Sebelum berakhir, rombongan Love Suroboyo dan followers mendengarkan sedikit sambutan dari Bapak Sabar selaku RW setempat. Pak Sabar bercerita mengenai asal mula di dirikan Kampung Maspati sebagai kampung lawas bertujuan untuk menjaga dan mengenalkan kearifan lokal ini kepada masyarakat umum (Elisabeth).

Foto oleh : Tim liputan LS @yosiareborn @edoniarjerypratama @awalyangbaru_ @raffirizkiillahi @zi_elisabeth

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.