BLUSUKAN

Bosan Nge-Mall, Puluhan Arek Suroboyo Ikuti Blusukan Kawasan Eropa Darmo

Love Suroboyo – Pada Minggu 18 Maret 2018 kemarin, Komunitas Love Suroboyo mengadakan Blusukan Kawasan Eropa Darmo bersama puluhan anak muda Surabaya dengan total 88 peserta yang berasal dari anggota komunitas dan follower Love Suroboyo. Berkumpul di Taman Bungkul pada pukul 8 pagi, para arek Suroboyo ini siap berkeliling untuk menjelajah waktu dengan rute Rumah sakit Darmo-Gedung Wismilak-Monumen POLRI-SMAK Santo Louis 1 Surabaya-Gereja Katolik Hati Kudus Yesus-SMAK Santa Maria Surabaya.

Bagaimana keseruan Komunitas Love Suroboyo bersama para follower dalam menjelajah masa lalu dari kota yang dijuluki Kota Pahlawan ini?

Taman Bungkul

Taman Bungkul menjadi titik temu antara para punggawa Komunitas Love Suroboyo dan para pemuda Surabaya yang beruntung dapat mengikuti acara blusukan ini. Taman bungkul ini tak lepas dari nama seorang tokoh yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di wilayah Surabaya dan sekitarnya, dia adalah Ki Ageng Supo yang kemudian mendapat gelar Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul yang makamnya terdapat di belakang taman ini dan sekaligus menjadi tempat bagi para peziarah.

Para peserta blusukan

Rumah Sakit Darmo

Perjalanan pun berlanjut menuju menuju RS. Darmo yang dulu pernah menjadi markas Brigadir jenderal A.W.S Mallaby sebelum Pertempuran 10 November 1945 meletus di depan RS. Darmo. Rombongan peserta Blusukan Kawasan Eropa Darmo disambut hangat oleh Bapak Mitra, selaku humas dari RS. Darmo.

Foto bersama peserta blusukan dengan Pak Mitra (berbaju Hijau)

RS. Darmo merupakan salah satu cagar budaya di kawasan Darmo dengan tipe A, yang artinya tidak ada perubahan yang signifikan terhadap bangunan sejak jaman Belanda dulu. Contohnya saja lorong atau bangsal rumah sakit yang kusen pintu dan jendelanya masih tetap sama seperti dulu.

 

Lorong masuk utama dengan logo Rumah Sakit Darmo.
Lorong rumah sakit

Graha Wismilak

Graha Wismilak Surabaya adalah termasuk  peninggalan kolonial Belanda yang masih terawat dengan baik. Fungsi pertama dari Graha Wismilak Surabaya ini adalah toko yang saat itu menjual berbagai kebutuhan untuk kaum elit Belanda. Hal ini berlangsung antara tahun 1920-1936.

Graha Wismilak

Pada tahun 1936 hingga 1924 disewa Toko Yan. Kemudian pada masa penjajahan Jepang Graha Wismilak Surabaya sempat menjadi asrama bagi Polisi Istimewa Jepang (1942-1945). Setelah Kemerdekaan gedung ini di rebut oleh Arek-arek Suroboyo dan menjadi Kantor Kepolisian Republik Indonesia (1945-1993). Sarat akan bukti sejarah inilah, akhirnya bangunan bergaya kolonial di masukkan dalam cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintahan Kota Surabaya.

Salah satu bagian Graha Wismilak

Monumen POLRI-SMAK Santo Louis 1 Surabaya

Perjalanan masih dilanjutkan ke Monumen Polri yang dulu adalah titik pertempuran antara Polri dengan tentara Sekutu yang dipimpin oleh Polisi M. Yasin di Polisi Istimewa. Dari minumen Polri, dilanjutkan lagi ke SMAK St. Louis 1 yang merupakan gedung bersejarah tempat pertama kali bendera merah putih di kibarkan di Surabaya pasca Proklamasi.

Materi sejarah SMAK Santo Louis 1 oleh Pak Chrisyandi
Bagian depan gedung

 

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus-SMAK Santa Maria

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang masih terawat dengan baik di Surabaya. Gereja Hati Kudus Yesus terletak di jalan Polisi Istimewa no 15 (d/h Jalan Dr Soetomo) Surabaya atau pada jaman penjajahan Belanda disebut Anita Boulevard atau Coenboulevard. Gereja ini juga merupakan gereja katedral di Jawa Timur, yang dicirikan dengan adanya kursi tempat duduk untuk Uskup Agung.

Peserta blusukan berfoto di depan ruangan gereja
Bagian Luar Gereja
Tempat pembaptisan
Bagian dalam gereja

dilanjutkan ke SMAK Santa Maria yang dulu sempat menjadi Markas BKR dan TRIP (Tentara Pelajar) pimpinan Sungkono dan kembali lagi ke Taman Bungkul diakhiri dengan makan bersama Kuliner khas Surabaya makan Semanggi Suroboyo. Uenakk kan rek!

Banyak yang tertarik ikut Blusukan karena ingin belajar sejarah dan mengenali kotanya lebih dalam. “Aku nek Mall wes bosen mas, pengen eruh Sejarahe Suroboyo onok opo ae, ternyata akeh sing ga tak weruh i, Suwun Love Suroboyo sing ngadakno Blusukan sejarah iki,” tutur salah satu peserta. Ada juga peserta yang jauh – jauh datang dari Malang untuk ikut blusukan ini.

Blusukan sejarah ini nantinya akan di agendakan tiap 1-2 bulan sekali dengan rute tematik, dari Blusukan Kampung Eropa, Kampung Pecinan, Kampung Arab, Kampung Lawas, Kampung Tua Surabaya hingga ke bangunan Cagar Budaya di Surabaya. (Anggita)

Nah, Pengen ikut Blusukan bareng @komunitaslovesuroboyo selanjutnya kan?

Foto by @mazfajarmujianto @ach_muchlison @anitaratnaa @anggitarkwardani

Update info terkini tentang Surabaya follow @lovesuroboyo. Update agenda dan kegiatan komunitas follow @komunitaslovesuroboyo.

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.