KARYA

Hari Air Sedunia : Surat dari Tahun 2050

Hai, Love Suroboyo.

Kutuliskan surat sederhana ini untukmu yang sedang berada di tahun 2018, dariku yang tengah menjalani kehidupan di tahun 2050. Kutuliskan surat ini sebagai bentuk sesalku pada kesombongan yang tak pernah surut di masa itu. Kesombonganku sebagai manu sia yang terlena dengan ketidakabadian di dunia ini.

Aku dan orang – orang di tahun ini memiliki tubuh kurus kering. Kami semua menderita penyakit yang sama, yaitu ginjal. Dehidrasi adalah hal yang menjadi derita kami setiap hari. Setiap hari kami hanya bisa minum setengah gelas air bersih. Parahnya lagi, karena haus yang tak tertahankan, terkadang kami juga meminum air kotor. Tapi kami sangat bersyukur, meskipun tak bisa meminum 8 gelas air bersih per hari seperti dulu lagi. Aku bahkan masih ingat bagaimana dulu Ibu selalu mengingatkanku untuk banyak minum air. Aku masih ingat betapa dulu aku sering membuang sisa air mineral ke selokan begitu saja, tanpa berpikir panjang. Karena aku terlalu sombong berpikir bahwa air akan selalu ada.

Sumber : www.kachwanya.com

Tapi nyatanya, TIDAK. Aku salah besar. Air bersih yang sering aku remehkan keberadaanya itu, kini makin menghilang keberadaannya.

Di tahun ini, air memiliki nilai yang lebih berharga dari apa pun yang kau bayangkan. Semua orang bekerja hanya untuk dibayar dengan segelas air bersih. Semua orang tak memiliki rambut di kepalanya. Aku dan orang – orang lainnya di dunia terpaksa memilih cara itu agar tak perlu mencuci rambut, karena harga air di tahun ini menyamai harga berlian. Jangankan mencuci rambut, untuk mandi saja kami berpikir ulang.

Para ilmuwan pun mulai bergerak untuk mencari cara untuk membuat air. Tapi mereka lupa prinsip dasar air yang dulu selalu diajarkan di sekolah. Bahwa air di dunia ini tak pernah bertambah atau berkurang. Jumlahnya tetap, tetapi semakin berkurang kualitas kebersihannya. Kami lupa bahwa MANUSIA TIDAK BISA MEMBUAT AIR.

Bahkan sepertinya aku juga lupa kapan terakhir kali hujan air bersih. Setiap waktu hanya hujan asam yang turun ke bumi ini. Tanah – tanah semakin mengering dan retak – retak. Hijaunya alam tak lagi bisa kulihat. Sejauh mata memandang hanya warna coklat yang ada di bumi ini. Pohon – pohon mati tak bersisa. Bumi semakin gersang dan panas tak tertahankan. Manusia sudah di ambang kepunahan. Sebentar lagi bumi pun akan musnah.

Kau tahu? Dulu, aku masih bisa melihat hujan, asyiknya bermain air dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Ketika anakku bertanya, “Ayah, mengapa tidak ada air lagi sekarang ?”

Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang meremehkan keberadaan air. Aku tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan untuk menghemat air. Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan.

Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya. Sungguh sesak dada ini melihat mereka yang tak tahu apa – apa harus merasakan akibat dari masa lalu akibat kesombonganku. Andai aku memiliki mesin waktu, aku pasti kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk menghemat air demi masa depan. Tapi, itu semua hanya ada di negeri dongeng.

Semoga surat ini bisa menyadarkan kalian yang masih bisa hidup dengan tenang bersama air. Jangan ikuti kesombongan kami, nanti kau akan musnah dengan cara seperti kami. Segera selamatkan air. Bukan untukmu, tapi untuk generasi masa depan. Mereka berhak mendapatkan kebahagiaan yang sama denganmu.

Salam,

Manusia dari tahun 2050

NB : Surat terinspirasi dari video Surat dari Tahun 2050 oleh Komunitas Tunas Hijau

Ditulis oleh : Anggita

Foto by  @ach_muchlison

Update berita terkini seputar Surabaya follow ig @lovesuroboyo. Update agenda komunitas follow @komunitaslovesuroboyo

 

 

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.