BLUSUKAN

Kluthusan Kampung Buaya Kapasan

 

Kampung Buaya Kapasan

                       

Kampung ini masih sebanjar dengan kawasan Kembang Jepun yang tersohor itu. Kampung yang sebagian besar penduduknya berdarah Tionghoa ini tidak sekadar menghantarkan kita pada nuansa Beijing, namun Kapasan telah melegenda dari sebuah kampung yang sempit ternyata sarat dengan kisah heroik dan pemandangan lingkungannya yang unik.

Pada abad ke-11, orang-orang Tiongkok masuk ke Indonesia, tepatnya di wilayah Surabaya Utara. Para penduduk Tiongkok perantauan yang tinggal di tempat ini tidak hanya dari golongan pedagang saja, melainkan para ahli kungfu pada masa itu. Cerita kehebatan kungfu dan jiwa nasionalisme warganya yang kritis, selalu memberontak pada kebijakan Kolonial Belanda. Sehingga membuat mereka dikenal dengan sebutan Buaya Kapasan, yang menjadikan kawasan ini tidak seperti wilayah Pecinan pada umumnya.

Waktu itu di daerah Kapasan merupakan hutan (alas) yang didominasi oleh pohon-pohon randu (kapas). Kolonial Belanda menunjuk beberapa orang untuk menjabat di daerah Kapasan, yakni The Boen Keh, The Ing Bian, The Swie Bie, dan J.C. Van Kraayenoord. Mereka berinisiatif membabat habis pohon randu yang ada di Kapasan untuk ditanami pohon trembesi dan dijadikan sebagai perkampungan.

Dulu, Belanda sempat melarang wayang Potehi dipertunjukkan di sana. Namun, penduduk kampung tidak memedulikannya. Saat para Kolonial meminta mereka menampilkan kesenian di jalan raya, mereka malah tetap mengadakan pertunjukan di dalam. Pihak Kolonial akhirnya marah. Akibatnya, mereka meluncurkan mortir paling dahsyat di daerah Kapasan. Anehnya, mortir-mortir tersebut jatuh layaknya kapas (ringan, lembut, dan tidak meledak). Hal ini dipercaya karena adanya kesaktian-kesaktian yang dimiliki penduduk Kapasan. Kesaktian mereka didapatkan dari ilmu kungfunya yang mumpuni, sehingga tak ayal kampung ini juga dijuluki kampung kungfu.

Zaman dulu, suasana di kampung Kapasan sangat asri dan sejuk karena banyaknya pohon trembesi. Tanah lapang yang belum dikotaki berterali besi sering dijadikan sebagai tempat latihan kungfu. Berikut adalah nama-nama guru kungfu yang terakhir yang pernah tinggal di Kapasan, di antaranya, Liem Gin Gwan, Po Giok, Bo Tjwan, Bo Sing, Bo Tik, Koei Hiano, dan Jin Hai. Kecuali Jin Hai, mereka semua sudah dikabarkan mangkat. Kini Jin Hai yang memilih hidup menyendiri berdomisili di jalan Soetopo.

Photo by: @mumun96 Gambar 1: Tim Kluthusan Love Suroboyo berfoto bersama Bpk. Gunawan Djajaseputra alias Liauw Soen Gwan (tengah) selaku tokoh masyarakat dan Bpk. Lurah Kapasan.

Kegiatan kungfu sendiri sudah berakhir sejak lama, sekitar tahun 60an tidak ada lagi yang mengajarkan kungfu kepada generasi selanjutnya. Saat ditanya oleh tim Kluthusan Love Suroboyo mengenai alasan kevakuman kungfu, Bapak Gunawan Djajaseputra sebagai tokoh masyarakat di Kampung Buaya Kapasan menjelaskan, “Anak muda zaman sekarang berbeda dengan dulu. Mereka bertempramen tinggi. Kami khawatir ilmu kungfu nanti disalahgunakan, untuk perkelahian, balas dendam, atau menyombongkan diri. Dulu saat kampung ini benar-benar menghayati kungfunya, para pelatih kungfu tidak akan serta merta menerima semua murid, beliau-beliau pun tetap memilah dan memilih murid-muridnya yang tepat untuk mentransferkan ilmunya. Kini kampung kungfu hanya tinggal kenangan yang bisa kita ceritakan kepada anak-cucu.”

Setiap kampung memiliki hari sedekah buminya masing-masing. Harinya Kapasan selalu jatuh sehari sebelum peringatan kelahiran nabi Konghucu. Pada tahun 2017 ini, sedekah bumi kali ini akan memperingati hari lahir desa yang ke-121 tahun. Sejarah kelahiran kampung ini berkaitan erat dengan klenteng Beon Bio yang berada di depan kampung.

Meskipun Kapasan Dalam ini kebanyakan adalah warga keturunan Tionghoa, semua penduduk di sini terlibat dalam kegiatan sedekah bumi. Bahkan acara sedekah bumi ini dilaksanakan dalam adat Jawa. Sesuai tradisi, upacara sedekah bumi di Kapasan biasanya diawali dengan doa bersama di punden, lalu dilanjutkan dengan kirab tumpeng dari balai RW ke lokasi acara. Setelah acara ritual selesai, tumpeng tersebut dinikmati bersama-sama, baik oleh warga maupun tamu undangan. Selanjutnya pengurus kampung akan menyerahkan gunungan kepada Ki The Boen Liong (Ki Sabdo Sutedjo) yang merupakan keturunan Tionghoa penduduk asli Kapasan Dalam, untuk memulai pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Jalan menuju Kapasan Dalam harus melewati gang kecil yang ada di sebelah klenteng Boen Bio. Jika dilihat dari luar seperti jalan gang biasa. Namun, begitu memasuki Kapasan dalam, pandangan mata menjadi luas, tak sesempit ekspektasi di mulut gang. Kesan oriental dan nusantara membaur menjadi satu, kontras namun harmonis. Di sana kita dapat menemukan punden, mushola umum, gereja, bangunan tua, dan jajaran rumah warga yang berdempetan dan berterali besi. Namun sayangnya, kampung ini sepi saat siang hari, hanya ada orang-orang Tionghoa jompo yang kongkow-kongkow di warung pojok kampung. Banyak pula bangunan rumah Bandar yang masih berdiri kokoh dan asli berderet di gang-gang sempit kampung ini.

BANGUNAN TUA                           

Bangunan Kolot Kapasan / Balai Pengobatan

Photo by: @pitalocadiyah Gambar 2: Sebuah gedung tua sekaligus bunker yang dipakai sebagai tempat perlindungan pada jaman penjajahan.

Di tengah-tengah perkampungan masih berdiri dengan tegap dan kokoh bangunan kolot berbahan kayu jati asli, gentingnya dari seng. Usia bangunan mencapai 134 tahun sehingga bangunan tersebut berhasil menahan ujian terik panas matahari dan dinginnya malam serta hujan. Bangunan ini sudah berdiri sebelum klenteng Boen Bio ada, di bawah bangunan ini pula tersembunyi sebuah bunker yang cukup luas, namun bunker tersebut saat ini telah tertimbun tanah.

Konon, saat masa penjajahan, bunker di bawah banguanan ini dijadikan gudang untuk menyembunyikan senjata serta tempat perlindungan, masyarakat bisa bersembunyi di dalam bangunan tersebut dan dapat keluar dari bawah bangunan tanpa sepengetahuan pihak Kolonial. Bangunan tua ini sekarang difungsikan sebagai gedung balai pengobatan.

Sayang sekali saat tim Kluthusan Love Suroboyo kesana belum bisa masuk ke dalam bangunan. Karena kebetulan yang memegang kunci, yakni Pak RW, sedang keluar kota.

Rumah Pemilik Barang Antik

Photo by: @mumun96 Gambar 3: Mengunjungi rumah tua milik pak Dony yang masih terjaga kelawasannya.

Lalu Pak Gunawan mengajak kami melanjutkan perjalanan berkeliling Kapasan Dalam. Yang paling menarik adalah ketika sampai pada rumah tua di antara rumah berterali besi. Ternyata rumah bercat kuning dan berbahan kayu jati asli itu merupakan saksi bisu peperangan Jepang. Rumah tersebut dipenuhi barang-barang antik asal Tiongkok, seperti pedang, patung, sepeda, jam dinding, dan lainnya. Pemilik rumah adalah Pak Dony Djhung yang merupakan generasi ketiga yang menjadi penghuni di rumah tua ini. Beliau adalah peranakan Tionghoa  yang orang tuanya tinggal di Solokuro, Lamongan, namun Pak Dony sekarang menetap bersama istri di Kapasan.

Rumah yang lebih rendah dengan jalan gangnya itu sering didera banjir jika hujan turun. Dengan alasan tertentu, yakni tak adanya dana untuk merenovasi rumah dan permintaan beberapa orang (mahasiswa dan tokoh masyarakat) yang menginginkan Pak Dony tetap mempertahankan bentuk bangunan dan isinya supaya nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga.

KEMISTISAN KAPASAN

Pohon Trembesi        

Obrolan dengan Pak Gunawan tetap berlanjut di sore yang seterang siang. Peristiwa alam itu akhirnya mengantarkan kami menuju cerita nyata berbau mistis. Kami duduk di bangku warung makan yang sudah tutup, tepat di sebelah punden. Beliau itu tua namun memiliki semangat muda yang masih bergelora di jiwanya. Tubuhnya masih tongseng kalau istilah Jawanya (tongseng: sehat, kuat dan segar bugar untuk orang tua).

“Di sini dulu banyak pohon trembesi. Sejuk dan dingin. Di depan saya ini, dulu ada trembesi besar,” buka Pak Gun menunjuk sebelah punden.

“Lah, kenapa ditebang, Pak?”

“Yah, orang berpikiran biar jalan ini lebih luas. Tapi, orang-orang asli sini tidak ada yang berani menebangnya. Akhirnya, Lurah yang waktu itu menjabat menyuruh orang luar. Seingat saya orang Madura. Ada tujuh pohon yang berhasil ditebang. Sekitar seminggu setelah penebangan pohon-pohon trembesi, empat penebangnya meninggal dunia. Bersamaan itu, kemudian penyuruh dan keluarganya (istri dan anak) meninggal dunia pula,” tegas Pak Gun yang berkalung salib dan bercincin perak di kedua jarinya di masing-masing tangannya.

Jika dihitung, semua korbannya ada tujuh orang. Sungguh ironis, dan iba akan kejadian tersebut.

Saat ini, pohon trembesi yang tersisa ada dua pohon, satu ada di dekat parkiran mobil, dan satu lagi berada di sebelah lapangan. Sebenarnya ada satu lagi pohon trembesi yang ada di dekat balai pengobatan, namun pohon tersebut roboh karena kejadian alam.

Penebangan pohon trembesi di Kapasan dalam ini akan menjadi cerita sejarah sekaligus pitawat akan sifat keserakahan manusia.

Punden

Ada sebuah punden yang sampai sekarang masih dikeramatkan oleh warganya. Awalnya kami mengira punden ini adalah sebuah makam tokoh yang dihormati disana. Namun ternyata punden tersebut dibuat untuk menangkal bencana yang terjadi setelah penebangan pohon-pohon trembesi. Letak punden tersebut ada di tengah perkampungan, tepat di salah satu tempat pohon trembesi yang dulu ditebang. Di dalam punden tersebut terpendam mustika yang disakralkan, misalnya permata, keris, dll.

Photo by: @pitalocadiyah Gambar 4: Punden Kapasan

Sempat terjadi hal yang sulit dinalar akal ketika ada seseorang yang terpandang di wilayah Kapasan hendak mengambil mustika yang ada di dalam punden, namun tidak berhasil. Tak lama setelah kejadian, orang tersebut malah jatuh sakit lalu meninggal.

Terop Sedekah Bumi

Dulu ada pemuda yang tak memercayai tahayul dan hal-hal yang berbau mistis lainnya. Ia mencoba membuktikan bahwa memanjat terop dan mengambil sesaji yang ada di puncak terop tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Memang benar saat di atas, ia berhasil mengambil sesaji itu dan tidak ada yang menimpa pada dirinya.

Tapi, saat ia turun dan membawa saji itu, ia kesurupan luar biasa. Pemuda itu hilang kendali atas dirinya sendiri. Dan ia berubah seolah-olah menjadi macan.

Lalu beberapa tahun yang lalu saat sedekah bumi berlangsung, tradisi warga adalah selalu mengadakan acara wayang kulit di tengah-tengah jalan gang, dekat dengan punden. Suatu kali, ada panitia yang mengubah tradisi letak terop. Panitia mendirikan terop di lapangan dengan alasan agar memudahkan akses kendaraan warga.

Lapangan yang dekat dengan sekolah anak-anak TK itu pun berhasil berdiri. Pada jam istirahat, anak-anak bermain di sekitar terop dan ketika bel berbunyi semua anak masuk kelas dan menerima pelajaran lagi. Panitia yang berdiri di sekitaran terop kaget begitu tahu tanpa ada peristiwa alam (seperti angin atau hujan), terop di lapangan tiba-tiba roboh.

Akibat kejadian tersebut, akhirnya panitia segera memidahkan terop kembali ke tempatnya semula, yakni dekat dengan punden. Syukurlah tidak ada korban luka atau korban jiwa atas peristiwa waktu itu.

 

Klenteng Boen Bio

 

Photo by: @pitalocadiyah Gambar 5: Bpk. Tanuraga Taniwidjaja menjadi nara sumber ketika tim Kluthusan Love Suroboyo berkunjung ke klenteng Boen Bio.

Klenteng Boen Bio dengan corak bangunannya yang khas, tentu menarik perhatian kala kita melewati jalan Kapasan. Sebagai satu-satunya klenteng umat Konghucu di Indonesia, Klenteng Boen Bio memiliki catatan sejarah yang cukup panjang.

Keberadannya diawali dengan kedatangan orang-orang Tionghoa ke daratan Surabaya, lalu dibangunlah sebuah tempat peribadatan berupa kuil kecil yang dikenal sebagai Wenchang Ci, didirikan oleh seorang mayor bernama Zeng Detai (alias Zheng Wenjia) bersama Wu Deli, Lun Dunsong, dll. Salah satu sumber menyebutkan bahwa perubahan nama dari Wenchang Ci menjadi Wen Miao terjadi sekitar tahun 1899 berdasarkan petunjuk pada penel kayu. Namun, sumber lain menyebutkan perubahan nama tersebut dilakukan setelah kedatangan Kang Yowei (1904) yang kemudian para pengurusnya mendirikan sebuah sekolah pada tahun 1906, tepat di belakang klenteng ini. Yakni, sekolah Tiong Hoa Hwee Koan, yang sekarang bernama TK Tripusaka. Jika benar, maka klenteng Boen Bio (wen Miao) tahun ini berusia 111 tahun.

Wen Miao berarti “Kuil Sastra”. adalah klenteng yang didedikasikan untuk menghormati dan memuliakan nabi Konghucu (Confusius). Nabi Konghucu lahir di tahun 551 sebelum masehi, penanggalan imlek tahun pertama. Kalau di penanggalan umum berarti 2000 + 551 maka menjadi tahun 2551 dalam kalender Cina.

Pada jaman kolonial Belanda, klenteng ini awalnya berdiri tepat di belakang posisi klenteng saat ini. Klenteng Boen Bio ini memiliki keunikan di bagian literatur luar, dan di dunia hanya ada 3 negara yang memiliki keunikan seperti ini yakni, Jepang, China, dan Indonesia.

Photo by: @pitalocadiyah Gambar 6: Plakat berstempel asli pemberian Kaisar dari dinasti Qing.

Ciri unik lainnya di klenteng ini  tidak ada patung-patung dewa-dewi seperti halnya klenteng Tri Dharma, tetapi disini menggunakan Shinci, yaitu berupa papan tulisan, yang di puja adalah Tuhan Yang Maha Esa.Plakat yang terpasang di ruang utama bagian atas klenteng ini merupakan plakat asli dari kerajaan Tiongkok yang diberikan pada masa jabatan Kaisar Kuang Zi dari dinasti Qing, plakat ini digunakan untuk membuktikan bahwa Boen Bio diperuntukkan sebagai tempat peribadatan. Pada plakat tersebut tertulis “Sheng Jiao Nan Ji” yang berarti Gema Ajaran Suci (yang menyebar sampai selatan), dimana sejatinya aliran ajaran Tionghoa ini mengalir ke selatan Tiongkok.

Kalau diperhatikan di penutup meja sembahyang di klenteng Boen Bio ini terdapat binatang berkaki 4, bersisik dan mirip seperti naga serta memiliki tanduk di kepalanya ini disebut Kirin. Saat nabi Konghucu lahir ada dua ekor naga yang mengelilingi rumah dan suara musik yang merdu dimainkan oleh para dewa.

Photo by: @pitalocadiyah Gambar 7: Meja sembahyang di ruang utama klenteng Boen Bio.

Klenteng Boen Bio memiliki dua pilar naga yaitu Tiong Si (Tepa Selira) yang berarti sesama manusia harus bertenggang rasa. Yang unik naga pada pilar tersebut memiliki lima buah cakar, biasanya hanya tiga sampai empat buah cakar. Naga dengan lima cakar merupakan simbol yang menginterpretasikan sosok Kaisar, tahta Kaisar merupakan kasta tertinggi pada masyarakat Tiongkok pada masa itu.

Photo by: @pitalocadiyah Gambar 8: Salah satu tiang berukiran naga di klenteng Boen Bio.

Saat memasuki klenteng ini terdapat 4 anak tangga yang menyimbolkan :

  • Belajar,
  • di dunia ini tidak ada yang kekal,
  • membersihkan pikiran dan kebersihan hati, dan
  • pada akhirnya kita akan pulang ke Tuhan YME.
Photo by: @pitalocadiyah Gambar 9: Kelima pintu gerbang dan sepasang patung singa penjaga yang berada di bagian depang bangunan klenteng Boen Bio.

Pada ajaran Konghucu di aplikasikan dalam bangunan klenteng, lima pintu yang ada menjadi pintu gerbang seperti halnya panca indra :

  • Cinta kasih.
  • Kebenaran dan keadilan.
  • Kesusilaan.
  • Kebijaksanaan.
  • Dapat dipercaya.

Hidup di dunia ini harus seimbang. Melihat yin dan yang dari klenteng dapat dilihat dari sepasang patung singa yang menjaga, di kiri betina dan di kanan jantan.

Terdapat enam pasang singa di klenteng ini, sepasang berada di depan, sepasang di belakang, dan empat pasang lagi di atap dimana empat ini merupakan simbol arah mata angin.

Kunjungan tim Kluthusan Love Suroboyo ke kampung Kapasan yang warganya begitu majemuk membuat kita sadar bahwa toleransi, tenggang rasa dan rasa nasionalisme masih bisa kita rasakan atmosfernya di kota tercinta kita Surabaya.

Begitupun setiap malam menjelang peringatan kelahiran nabi Konghucu selalu diadakan wayang kulit oleh warga Kapasan yang berada di belakang klenteng. hal ini telah menjadi tradisi dan tidak pernah dilanggar oleh penduduk setempat. Kenapa tidak boleh dilanggar ? Karena warga percaya jika dilanggar maka akan terjadi musibah yang menimpa warga. (syakiebharyani/pitalocadiyah)

 

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.