SEJARAH

Sejarah Singkat Pintu Air Jagir Wonokromo Surabaya

Untuk kalian yang tinggal di Surabaya, atau mungkin yang pernah berkunjung ke Surabaya. Pasti tentunya tidak asing dong dengan Pintu Air / Dam Jagir yang ada dijalan Jagir Wonokromi ini, selain warnanya yang sudah cerah dan cocok untuk kalian yang suka hunting, tidak ada salahnya dong sedikit tahu tentang salah satu dam keren yang satu ini.

Pintu air / Dam Jagir merupakan bangunan peninggalan Belanda yang berlokasi dijalan Jagir Wonokromo berfungsi mengontrol kegiatan sungai Jagir sehingga genangan banjir di kawasan Surabaya mampu terkurangi.

Berdiri gagah di tengah Sungai Jagir, Surabaya, Pintu Air Jagir Wonokromo menghadang laju air yang kadang berlimpah. Sesekali juga menahan berbagai jenis sampah yang ikut hanyut dan tersangkut di kaki-kakinya.

Bagi warga Surabaya, keberadaan Pintu Air Jagir memiliki makna tersendiri. Selain dikenal sebagai ikon cagar budaya, bangunan ini juga memberi manfaat yang luar biasa. Karena dari waktu ke waktu, pintu air yang kini dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya ini berperan besar dalam mengatur debit air yang masuk ke Surabaya, termasuk menjaga jumlah stok air PDAM.

Pintu Air Jagir dibangun pada saat pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1917. Sejak awal berdiri bangunan ini difungsikan untuk mengantisipasi banjir. Bagi orang Belanda, banjir adalah mimpi buruk yang wajib diantisipasi sejak awal.

Kebiasaan mengatisipasi banjir ini muncul bahkan sejak mereka masih tinggal di negeri asal. Seperti kita tahu, Belanda adalah negeri yang permukaan tanahnya berada di bawah permukaan laut. Seiring waktu, setelah terjadi pemindahan kekuasaan beserta asetnya, bangunan ini juga jadi milik bangsa Indonesia.

Pihak PDAM sebagai pengelola, tak mau ketinggalan mengikuti program Sparking Surabaya yang digunakan sebagai semangat pariwisata kota. Kini, Pintu Jagir Air diberi hiasan lampu-lampu cantik yang saat malam tiba, menampakkan warna-warni bangunan yang mempesona.

Dibangunnya Dam ini bertujuan memperlancar kondisi Surabaya sebagai kota dagangnya Hindia Belanda pada waktu itu. Karena sistem yang sangat baik pada saat itu akhirnya Surabaya sempat disebut Amsterdam From The East.Dan dalam pembuatan Dam ini pemerintah Belanda mengerahkan ribuan rakyat Pribumi untuk menggali tanah sepanjang 5,6 kilometer dan jadilah kali jagir.

Sampai sekarang pintu air ini masih berfungsi sebagai pengendali banjir di Surabaya. Bangunannya yang kuno tetap terawat dengan baik. Keberadaan Pintu Air jagir menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Kawasan di sekitar Sungai Jagir sering dimanfaatkan pengunjung untuk memancing ikan. Tak pelak lagi peluang ini dimanfaatkan sebagian orang untuk mendirikan toko alat-alat pancing dan perlengkapan memancing lainnya. Sebagian pengunjung nekat untuk berenang, meski sudah ada rambu-rambu larangan berenang, sebab saat musim hujan tiba, air Sungai Jagir derasnya minta ampun.

Pintu air ini disalurkan ke laut dan kelokasi bozem yang ada di Morokrembangan dan Wonorejo. Bukan cuman bozem yang dibangun sebagai penampung air saat banjir tetapi beberapa pintu air seperti yang ada di Dinoyo, jadi ketika air laut datang pemerintah Belanda tinggal mengatur buka tutup kedua Dam tersebut (Jagir dan Dinoyo).

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.