KARYA

yapapa.

Entahlah, tapi aku lelah, penat.

Aku lelah harus memikirkan dua perasaan. Separuhku berkata untuk berhenti, separuhnya lagi memintaku untuk bertahan.

Sekarang aku tahu, yang diam-diam kadang memang lebih mengasyikan. Diam-diam memandangi punggung dari balik dinding, mengasyikan. Diam-diam menghafal sepatu apa yang dikenakan tiap harinya, mengasyikkan. Diam-diam menikmati senyumnya dari jauh, mengasyikkan. Diam-diam bahagia saat berpapasan, mengasyikkan. Diam-diam mencari cara untuk bisa dekat, mengasyikan. Diam-diam mendoakannya, juga mengasyikkan.

Diam-diam ‘jatuh’ sendiri, juga terkadang lebih baik. Tidak ada perasaan lain yang perlu dipikirkan. Tidak ada perasaan lain yang harus didahulukan. Tidak ada tersakiti berkali lipat karena ‘dia sedih karena tak sengaja ku lukai, aku terluka karena melukainya, aku sedih (pula) karena sedihnya adalah sedihku’. Rumit. Sungguh rumit.

Sekali lagi, aku lelah.

Aku lelah harus selalu disalahkan. Olehnya, oleh waktu, oleh keadaan, dan olehku sendiri.

Aku ingin berhenti. Setidaknya sejenak. Sungguh, sejenak saja. (Maheswarii / bingitbingit.wordpress.com)

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.